Oleh : Aslianti, S.Hum
Dalam perjalanan sejarah gerakan perempuan Islam di Indonesia, ada sosok-sosok yang tidak selalu berada di garis depan sorotan sejarah, tetapi pengaruhnya begitu dalam bagi generasi setelahnya. Salah satu di antaranya adalah Siti Munjiyah, seorang perempuan yang keberaniannya menyuarakan gagasan di ruang publik menjadi inspirasi bagi lahirnya generasi perempuan yang berani berdakwah dan berperan aktif dalam masyarakat.
Namanya tercatat sebagai perempuan pertama yang berpidato di forum besar organisasi Islam pada masa awal abad ke-20. Di tengah kultur masyarakat yang masih membatasi peran perempuan, keberanian itu menjadi sebuah peristiwa yang melampaui zamannya.
Tumbuh dalam Semangat Pembaruan
Perjalanan intelektual Siti Munjiyah tidak dapat dipisahkan dari gerakan pembaruan Islam yang dipelopori oleh Ahmad Dahlan bersama istrinya Siti Walidah. Melalui organisasi Muhammadiyah, mereka berupaya membangun masyarakat Islam yang maju melalui pendidikan, dakwah, dan pemurnian ajaran agama.
Dalam lingkungan gerakan ini, perempuan tidak lagi dipandang hanya sebagai penjaga rumah tangga, tetapi juga sebagai bagian penting dalam pembangunan umat. Melalui gerakan perempuan Aisyiyah, perempuan didorong untuk belajar, memahami ajaran Islam secara mendalam, serta terlibat aktif dalam kegiatan dakwah dan sosial.
Di tengah atmosfer intelektual itulah kepribadian dan keberanian Siti Munjiyah tumbuh.
Pidato yang Mengubah Cara Pandang
Salah satu momen penting dalam sejarah perjuangannya terjadi pada tahun 1921 ketika Kongres Muhammadiyah diselenggarakan di Yogyakarta. Dalam forum yang didominasi oleh laki-laki, Siti Munjiyah berdiri dan menyampaikan pidato di hadapan para peserta kongres.
Peristiwa ini bukan hanya tentang seorang perempuan yang berbicara di mimbar. Ia menjadi simbol perubahan cara pandang terhadap perempuan dalam kehidupan sosial dan dakwah. Pidato tersebut menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan intelektual, keberanian moral, dan tanggung jawab yang sama dalam menyampaikan kebenaran.
Keberanian itu membuka ruang baru bagi perempuan untuk tampil sebagai subjek dalam dakwah dan gerakan sosial.
Menghidupkan Spirit Perempuan Muda
Jejak keberanian Siti Munjiyah tidak berhenti pada satu peristiwa. Semangat yang ia tunjukkan menjadi inspirasi bagi lahirnya generasi perempuan muda yang lebih percaya diri dalam menuntut ilmu, berdakwah, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Spirit inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi lahirnya Nasyiatul Aisyiyah, organisasi perempuan muda dalam lingkungan Muhammadiyah. Organisasi ini menjadi wadah bagi perempuan muda untuk mengembangkan potensi intelektual, kepemimpinan, dan komitmen dakwah.
Nilai-nilai yang diwariskan oleh Siti Munjiyah—keberanian berpikir, keberanian berbicara, dan keberanian memperjuangkan kebaikan—menjadi ruh yang menghidupkan gerakan perempuan muda ini.
Warisan yang Terus Hidup
Hari ini, ketika perempuan dapat berdiri di mimbar dakwah, memimpin organisasi, dan menyuarakan gagasan di berbagai forum, kita mungkin tidak selalu mengingat bahwa jalan itu telah dibuka oleh para pelopor yang berani melangkah lebih dulu.
Kisah Siti Munjiyah adalah kisah tentang keberanian yang lahir dari iman dan ilmu. Ia menunjukkan bahwa suara perempuan bukanlah ancaman bagi masyarakat, tetapi justru kekuatan yang dapat menumbuhkan kesadaran, membangun peradaban, dan menghidupkan dakwah.
Dari mimbar sederhana di masa lalu, suaranya terus menggema hingga hari ini—menyalakan semangat perempuan untuk belajar, berdakwah, dan berkontribusi bagi kemajuan umat melalui gerakan seperti Nasyiatul Aisyiyah.