Skip to main content

Oleh : Ustadz Arip Saripudin, Ph.D

Sering kali kita merasa ringan untuk meminta maaf, tetapi terasa berat untuk memaafkan. Padahal, dalam Islam, memaafkan justru memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan lebih mulia. Memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan iman dan kebesaran jiwa. Sebagai manusia dan makhluk sosial, kita tidak luput dari interaksi yang terkadang melukai perasaan. Tidak ada hubungan tanpa kesalahan. Oleh karena itu, Allah SWT mengajarkan kepada kita satu akhlak agung yang mampu menyelamatkan hati dan memperbaiki hubungan, yaitu memaafkan.

Allah SWT berfirman:
“Jadilah engkau pemaaf, perintahkanlah yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”(QS. Al-A‘raf: 199)

Ayat ini mengajarkan bahwa memaafkan adalah sikap orang beriman yang dewasa, bukan sekadar reaksi emosional, melainkan pilihan sadar untuk menjaga hati tetap bersih.

Allah juga menegaskan:
“Dan sungguh, Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”(QS. Al-Mujadilah: 2)

Jika Allah Yang Maha Agung saja senantiasa membuka pintu ampunan, lalu mengapa kita, sebagai hamba yang penuh dosa, begitu sulit untuk memaafkan? Memaafkan menjadikan Allah ridha kepada hamba-Nya. Orang yang memilih memaafkan berarti ia lebih mengutamakan keridhaan Allah daripada memelihara dendam yang hanya akan melelahkan hati. Ketika dendam disimpan, hati menjadi sempit; tetapi saat memaafkan, hati terasa lapang dan damai.

Memaafkan juga merupakan obat bagi jiwa. Ia menenangkan hati, meredam amarah, dan menghapus rasa benci. Banyak konflik, perselisihan, bahkan permusuhan yang berkepanjangan sebenarnya dapat selesai jika salah satu pihak berani melangkah terlebih dahulu untuk memaafkan. Dengan memaafkan, silaturahmi yang retak dapat tersambung kembali. Ukhuwah yang melemah dapat dipererat. Tidak ada tembok penghalang antara hati yang saling memaafkan. Inilah akhlak yang melahirkan masyarakat yang damai dan penuh kasih sayang.
Lebih dari itu, memaafkan adalah bentuk kerendahan hati (tawadhu). Orang yang mampu memaafkan menunjukkan kematangan jiwa dan keagungan akhlak. Ia sadar bahwa dirinya pun tidak luput dari kesalahan dan sangat membutuhkan ampunan Allah.

Allah SWT menjanjikan ampunan bagi orang yang memaafkan:
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?”(QS. An-Nur: 22)
Ayat ini seakan menjadi pertanyaan langsung bagi kita: Jika kita ingin diampuni oleh Allah, mengapa kita enggan mengampuni sesama?
Rasulullah SAW bersabda:
“Maafkanlah, niscaya kamu akan dimaafkan.” (HR. At-Tabrani)
Dan dalam kehidupan beliau, Rasulullah SAW adalah teladan pemaaf sejati. Beliau memaafkan orang-orang yang menyakiti, mencaci, bahkan memerangi beliau. Semua itu dilakukan bukan karena lemah, tetapi karena kuatnya iman dan luasnya kasih sayang.

Maka, marilah kita belajar menjadi pribadi pemaaf. Bukan karena orang lain selalu benar, tetapi karena kita ingin hati yang bersih, jiwa yang tenang, hubungan yang terjaga, dan yang terpenting—ampunan serta ridha Allah SWT.