Oleh : Siti Hartiah, S.H
Bulan Ramadhan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah madrasah ruhiyah yang Allah siapkan untuk membentuk pribadi bertakwa. Setiap laki-laki dan perempuan yang beriman memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kemuliaan. Islam dengan indah mengatur peran yang berbeda namun setara dengan nilai menjadikannya dua pilar keberkahan Ramadhan yang terwujud dalam kokohnya iman dan indahnya amal saleh mukmin dan mukminah di dalam rumah tangga maupun masyarakat.
Allah ﷻ berfirman:
وَالصَّاۤىِٕمِيْنَ وَالصّٰۤىِٕمٰتِ وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰفِظٰتِ وَالذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذّٰكِرٰتِ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا….
“….laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, untuk mereka Allah telah menyiapkan ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)
- Kemuliaan Mukmin di bulan Ramadhan. Mukmin (laki-laki yang beriman) memegang peran sebagai pelindung dan penggerak ketaatan yang terpancar melalui tanggung jawab dan kepemimpinan yang ia pikul.
- Iman dan Keteladanan: Seorang mukmin menjadi contoh tauladan yang baik bagi keluarganya. Mengajak untuk sujud berjamaah membaca serta merenungi ayat al Quran dan memastikan setiap anggota keluarga terjaga akhlaknya adalah bentuk jihad yang sangat tinggi nilainya.
- Jihad Nafkah di tengah Dahaga: Bekerja mencari nafkah yang halal saat raga sedang lemah karena puasa adalah ibadah yang mulia. Setiap keringat yang jatuh demi mencukupi kebutuhan keluarga dihitung sebagai amal saleh yang berat timbangannya.
- Penghidup Rumah Allah: Langkah kaki seorang mukmin menuju masjid untuk shalat berjamaah adalah simbol kekuatan iman yang memperkuat ukhuwah antar sesama hamba, juga menjadikannya kekuatan dalam hubungan kepada masyarakat.
- Kemuliaan Mukminah di bulan Ramadhan
Bagi seorang mukminah (perempuan yang beriman), Ramadhan adalah pembuktian betapa luar biasanya nilai pengabdian yang dilakukan dengan cinta. Pintu surga terbuka lebar melalui jalur-jalur yang sangat dekat dengan keseharian.
- Pahala dari Setiap Sajian: Membangunkan keluarga kemudian menyiapkan sahur dan berbuka bukan sekadar rutinitas tetapi setiap detik di dapur adalah sedekah. Menghidangkan makanan bagi orang yang berpuasa memberikan pahala sama dengan orang yang berpuasa tersebut.
- Madrasah Iman: Mukminah adalah sosok yang menghidupkan suasana ibadah di rumah. Ia adalah madrsah pertama yang menanamkan kerinduan pada Ridha Allah kepada anak-anaknya.
- Ibadah yang Tidak Terputus: Seorang perempuan meski sedang dalam masa udzur (haid/nifas), kemuliaannya tidak berkurang. Melalui dzikir, doa, dan sedekah, ia tetap mampu menjaga koneksi ibadah yang kuat kepada Allah.
Keberkahan Ramadhan akan terasa sempurna ketika kedua pilar ini saling menguatkan. Mukmin dan mukminah saling membantu meringankan beban demi mencapai target ibadah bersama. Ramadhan bukan hanya tentang kesalehan individu, tetapi juga tentang membangun keluarga dan masyarakat yang bertakwa. Keduanya berjuang di jalan yang sama dengan peran yang berbeda. Mukmin dan mukminah memiliki kunci pintu surganya masing-masing menuju satu predikat Muttaqin (orang yang bertakwa).
