
Oleh : Arip Saripudin, S.Pd.I., M.A., Ph.D
Samarinda – Selasa, 17 Februari 2026 menjadi momen bersejarah dan penuh makna bagi santri SMA Istiqamah Muhammadiyah Boarding School Samarinda. Dalam perjalanan pulang usai mengikuti ajang Olimpiade Ahmad Dahlan (Olympiad Ahmad Dahlan) ke-8 di Kota Makassar, para santri melaksanakan shalat Tarawih pertama Ramadan di atas kapal KM Bukit Siguntang.
Sebanyak 30 santri didampingi guru pembimbing mengikuti pelayaran laut sebagai bagian dari perjalanan edukatif yang dirancang secara terencana oleh sekolah. Perjalanan ini bukan sekadar mobilitas pulang, namun menjadi sarana pembelajaran langsung bagi para santri.
Kepala Sekolah SMA Istiqamah Muhammadiyah Boarding School Samarinda, Arip Saripudin, menyampaikan bahwa penggunaan moda transportasi laut ini adalah bagian dari pendidikan karakter dan pembentukan mental tangguh.
“Santri harus kita latih agar siap menghadapi berbagai kondisi. Mereka tidak hanya terbiasa dengan moda udara, tetapi juga darat dan laut. Kita ingin anak-anak kita kuat, adaptif, dan berani menghadapi pengalaman baru. Traveling bukan sekadar perjalanan, tetapi latihan kehidupan,” ungkapnya.
Menurutnya, para santri sengaja diperkenalkan dengan berbagai moda transportasi—udara, darat, dan laut—agar mereka memahami plus minus masing-masing. Dengan demikian, ketika kelak mereka melanjutkan studi atau berdakwah ke berbagai daerah bahkan luar negeri, mereka telah memiliki pengalaman dan kesiapan mental.
Pelaksanaan Tarawih di atas kapal pun berlangsung dengan khidmat. Di tengah debur ombak dan suasana pelayaran, para santri tetap khusyuk menunaikan ibadah. Momen tersebut menjadi pengalaman spiritual yang tak terlupakan—mengawali Ramadan di tengah samudra, dalam perjalanan kembali ke tanah kelahiran.
Keikutsertaan SMA Istiqamah dalam Olimpiade Ahmad Dahlan ke-8 di Makassar juga menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam membangun generasi unggul, berprestasi, dan berkarakter. Tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental dan spiritual.
Perjalanan ini menjadi bukti bahwa pendidikan sejati tidak hanya berlangsung di ruang kelas, melainkan juga dalam setiap langkah, perjalanan, dan pengalaman hidup yang membentuk jiwa kepemimpinan para santri.


