Oleh: Atabiya Radhwa Sagena Hasyim
Bilal bin Rabbah adalah budak Umayah bin Khalaf, pemuka Quraisy yang sangat tidak menyukai Islam. Ia ditangkap pada saat ada penyerangan di wilayahnya di Habasyah. Lalu ia pun diperbudak oleh Umayah bin Khalaf dan ditindas habis-habisan.
La sangat pasrah, merasa tidak dianggap, tidak diperlakukan selayaknya manusia. Hingga Islam datang, di situlah diangkat derajatnya oleh Allah, dimerdekakan oleh Abu Bakar saat ia disiksa dengan batu besar di atas badannya. Bilal hanya melafazkan “Ahad, Ahad”, yaitu melafazkan Maha Esa. Ia dibeli oleh Abu Bakar dengan harga mahal.
Dalam buku berjudul, “Menghilang, Menemukan Diri Sejati” oleh Fahruddin Faiz, Di halaman 70 tentang Hidup Bebas Berbekal Intuisi, bahwa jalan pencerahan memang agak menyakitkan, untuk mendapatkan pencerahan memang harus menjauh sebentar dari kerumunan. Dari kisah Bilal, dia mengajarkan bahwa untuk merdeka, kita juga harus bisa mempertahankan diri kita untuk tetap berada di jalan yang benar walau dengan penindasan ataupun siksaan lainnya. Walaupun dipaksa untuk kafir, tapi ia tetapi berpegang teguh pada agama Islam.
Ini QS. An-Nahl ayat 106:
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌBu
Artinya : Siapa yang kufur kepada Allah setelah beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa (mengucapkan kalimat kekufuran), sedangkan hatinya tetap tenang dengan keimanannya (dia tidak berdosa). Akan tetapi, siapa yang berlapang dada untuk (menerima) kekufuran, niscaya kemurkaan Allah menimpanya dan bagi mereka ada azab yang besar.
