Oleh : Arip Saripudin Ph.D

Salah satu persoalan penting dalam kehidupan umat Islam saat ini adalah belum adanya kalender Hijriah yang bersifat global dan tunggal yang digunakan bersama oleh seluruh umat Islam di dunia. Akibatnya, hampir setiap tahun kita menyaksikan perbedaan dalam menentukan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Bahkan dalam beberapa kasus, perbedaan itu bisa mencapai 1 sampai 2 hari, bahkan pernah terjadi hingga 3–4 hari. Karena itu, muncul gagasan besar yang disebut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Hakikat Kalender Hijriah Global Tunggal

Kalender Hijriah Global Tunggal adalah sistem kalender Islam yang memiliki prinsip:

“Satu hari – satu tanggal – di seluruh dunia.”
Artinya:
Jika di suatu tempat telah masuk tanggal 1 Ramadan, maka seluruh dunia juga 1 Ramadan. Jika telah masuk 1 Syawal, maka seluruh dunia juga 1 Syawal.

Dengan demikian, kalender Hijriah tidak hanya menjadi kalender ibadah, tetapi juga dapat digunakan sebagai kalender sipil umat Islam global. Realitas Umat Islam Saat Ini Saudara-saudaraku, umat Islam hari ini tersebar di seluruh dunia. Islam telah menjadi agama global. Namun, ironisnya, selama lebih dari 14 abad peradaban Islam, umat Islam belum memiliki sistem kalender global yang tunggal.

Akibatnya muncul berbagai persoalan:
1. Awal bulan Hijriah tidak bisa diketahui jauh hari.
2. Pelaksanaan ibadah sering berbeda antarnegara.
3. Terjadi dualisme kalender dalam kehidupan umat Islam.
4. Kalender Hijriah sulit digunakan dalam urusan sipil.
5. Hari Arafah (9 Dzulhijjah) bisa berbeda di berbagai negara.

Padahal umat Islam memiliki Al-Qur’an yang satu, Nabi yang satu, kiblat yang satu.

Seharusnya umat Islam juga memiliki satu sistem kalender yang menyatukan umat. Perbedaan Awal Syawal (Contoh Idul Fitri 2026)
Contoh nyata adalah dalam penentuan Idul Fitri tahun 2026 (1447 H). Secara astronomi pada tanggal 19 Maret 2026 posisi hilal berbeda-beda di berbagai wilayah dunia.

Indonesia
– Ketinggian hilal sekitar 0,9° – 3°
-Elongasi sekitar 4° – 6°
Timur Tengah
– Ketinggian hilal sekitar 4° – 6°
– Elongasi sekitar 7° – 9°
Eropa Barat
– Ketinggian hilal sekitar 6° – 8°
– Elongasi sekitar 9° – 11°

Perbedaan posisi hilal ini terjadi karena perbedaan letak geografis di permukaan bumi.

Akibatnya:
– Ada wilayah yang sudah mungkin melihat hilal
– Ada wilayah yang belum mungkin melihat hilal

Inilah yang sering menyebabkan perbedaan awal Ramadan atau Idul Fitri di dunia Islam. Sejarah Panjang Kalender Dunia. Jika kita melihat sejarah peradaban manusia, kalender global tidak lahir secara instan. Kalender yang kita gunakan sekarang, yaitu kalender Masehi, melalui proses sejarah panjang:
– Kalender Yunani kuno
– Kalender Yahudi
– Kalender Romawi
– Kalender Julian
– Kalender Gregorius
Akhirnya disepakati menjadi kalender global dunia. Jika kalender Masehi bisa melalui proses panjang hingga menjadi kalender global, maka
Pertanyaannya: Mengapa kalender Hijriah tidak bisa menjadi kalender global umat Islam?

Sejarah Kalender Global dalam Peradaban

Bahkan dalam sejarah peradaban kuno:
Peradaban Sumeria lebih dari 6000 tahun lalu sudah memiliki sistem kalender yang disepakati masyarakat luas. Ini menunjukkan bahwa peradaban manusia selalu membutuhkan sistem penanggalan yang seragam. Maka sangat wajar jika umat Islam juga memiliki kalender global yang menyatukan umat. Dalil Universalisme Islam
Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS Al-Anbiya: 107)
Allah juga berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيراً وَنَذِيراً

“Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia.”
(QS Saba: 28)

Islam adalah agama yang bersifat universal. Bahkan Allah menegaskan:

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً

“Sesungguhnya umat kalian ini adalah umat yang satu.”
(QS Al-Anbiya: 92)

Konsep Ummatan Wahidah menegaskan bahwa umat Islam adalah satu umat. Maka idealnya umat Islam juga memiliki sistem waktu yang menyatukan umat. Dalil Al-Qur’an tentang Kalender Islam

Allah SWT berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: hilal itu adalah tanda waktu bagi manusia
dan bagi ibadah haji.”
(QS Al-Baqarah: 189)

Ayat ini memberikan beberapa informasi penting:
1. Kalender Islam berbasis bulan (lunar)

2. Bersifat universal untuk manusia (لِلنَّاسِ)
3. Digunakan untuk kepentingan sosial
4. Digunakan untuk ibadah

Dalil Hisab dalam Al-Qur’an
Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan menetapkan manzilah- manzilahnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.”
(QS Yunus: 5)

Allah juga berfirman:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.”
(QS Ar-Rahman: 5)
Ini menunjukkan bahwa sistem waktu dalam Islam berkaitan erat dengan perhitungan astronomi.
Hadis Rukyat
Rasulullah ﷺ bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sering dipahami secara literal bahwa hanya rukyat yang boleh digunakan. Padahal Nabi juga bersabda:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ

“Kita adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung.”
(HR Bukhari)

Hadis ini menjelaskan kondisi umat pada masa Nabi yang belum memiliki ilmu astronomi. Hari ini ilmu falak sudah sangat maju sehingga posisi bulan dapat dihitung dengan sangat akurat. Persoalan Matla’ (Perbedaan Wilayah Hilal) Salah satu penyebab utama perbedaan awal bulan adalah persoalan matla’. Matla’ berarti tempat terbitnya hilal. Karena bumi bulat, maka posisi hilal berbeda di setiap wilayah.

Pertanyaannya:
Apakah rukyat di satu tempat berlaku untuk seluruh dunia?
Hadis Perbedaan Matla’

Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa hilal terlihat di Syam pada malam Jumat.
Namun Ibnu Abbas di Madinah tetap berpuasa hingga 30 hari.
Beliau berkata:

نَحْنُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ
“Kami melihatnya pada malam Sabtu maka kami tetap berpuasa hingga menyempurnakan 30 hari.”
(HR Muslim)

Hadis ini menjadi dasar bagi sebagian ulama bahwa setiap wilayah memiliki matla’ sendiri.
Pendapat Ulama Klasik
Para ulama klasik berbeda pendapat tentang matla’.
Pendapat pertama: Matla’ Lokal

Setiap wilayah memiliki rukyat sendiri.
Ini adalah pendapat:
– Mazhab Syafi’i

– sebagian ulama Malikiyah

Imam An-Nawawi berkata:
لِكُلِّ بَلَدٍ رُؤْيَتُهُمْ
“Setiap negeri memiliki rukyatnya sendiri.”
Pendapat kedua: Matla’ Global

Jika hilal terlihat di satu tempat maka berlaku bagi seluruh dunia. Ini adalah pendapat:
-Mazhab Hanafi
-sebagian ulama Hanbali
Ibnu Taimiyah berkata:
إِذَا رُئِيَ الْهِلَالُ فِي بَلَدٍ لَزِمَ النَّاسَ الصَّوْمُ
“Jika hilal terlihat di suatu negeri maka wajib bagi kaum Muslimin berpuasa.”

Pendapat Ulama Kontemporer
Banyak ulama modern mendukung penyatuan kalender Islam global. Di antaranya:
– Syekh Ahmad Muhammad Syakir (1939)
– Mohammad Ilyas (1978)
– Jamaluddin Abd ar-Raziq (2004)
Kemudian muncul Deklarasi Dakar tahun 2008 yang didukung oleh OKI. Dan pada Konferensi Internasional Penyatuan Kalender Islam di Istanbul tahun 2016 dipilih konsep Kalender Hijriah Global Tunggal.

Sikap Muhammadiyah
Muhammadiyah mendukung KHGT sebagai bagian dari tradisi keilmuan.
– Muktamar Muhammadiyah ke-47 tahun 2015 di Makassar menetapkan KHGT.
– Dikuatkan dalam Muktamar ke-48 tahun 2022.
– Disosialisasikan secara resmi pada 25 Juni 2025.
Ini merupakan upaya untuk menggabungkan syariat, ilmu pengetahuan, dan kemaslahatan
umat.

Apakah Muhammadiyah Tidak Taat Ulil Amri?
Sebagian orang menuduh Muhammadiyah tidak taat ulil amri. Padahal perbedaan ijtihad dalam fikih adalah hal yang biasa dalam sejarah Islam.
Imam Syafi’i berkata:

رَأْيِي صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ وَرَأْيُ غَيْرِي خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ
“Pendapatku benar tetapi mungkin salah, dan pendapat orang lain salah tetapi mungkin benar.” Perbedaan ijtihad tidak berarti keluar dari syariat.
KHGT sebagai Tuntutan Peradaban Saudara-saudaraku,

Kalender Hijriah Global Tunggal adalah upaya besar untuk:
– menyatukan umat Islam
– memanfaatkan kemajuan ilmu astronomi
– membangun peradaban Islam modern

Jika suatu saat kalender ini disepakati:
Ramadan dimulai bersama
Idul Fitri dirayakan bersama
Hari Arafah sama di seluruh dunia
Ini akan menjadi simbol nyata persatuan umat Islam.

Penutup
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Kalender Hijriah Global Tunggal bukan sekadar persoalan astronomi.
Ia adalah:
– tuntutan sains
– tuntutan persatuan umat
– tuntutan peradaban Islam
Semoga suatu hari nanti umat Islam di seluruh dunia dapat merayakan Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha pada hari yang sama sebagai simbol ummatan wahidah. Semoga Allah mempersatukan hati umat Islam dan memuliakan peradaban Islam kembali.
والله أعلم بالصواب