Oleh : Sweet Nabila I.A, S.Pd., M.M

Ramadhan bukan cuma soal menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, Ramadhan adalah latihan besar untuk mengendalikan diri, termasuk di era ketika jempol lebih sering bergerak daripada lisan. Bagi generasi muda, tantangan puasa hari ini bukan hanya di kantin sekolah atau tongkrongan, tapi juga di timeline, story, dan kolom komentar.

Allah SWT mengingatkan tujuan puasa secara jelas:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Takwa berarti sadar, sadar dengan apa yang kita lihat, kita katakan, dan kita bagikan. Termasuk di dunia digital.

Di media sosial, satu klik bisa bernilai pahala atau justru dosa. Komentar yang menyakitkan, unggahan yang memancing iri, hingga menyebarkan aib orang lain sering dianggap sepele karena “cuma online”. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di era media sosial, “berkata” tidak hanya lewat mulut, tapi juga lewat caption, komentar, dan DM. Puasa sejati bukan hanya menahan mulut, tapi juga menahan jempol. Gen Z hidup di zaman serba pamer. Prestasi, liburan, gaya hidup semua berlomba ditampilkan. Tanpa sadar, hati jadi lelah karena membandingkan hidup sendiri dengan potongan hidup orang lain. Al-Qur’an mengingatkan:

“Dan janganlah kamu tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia.” (QS. Thaha: 131)

Ramadhan mengajak kita fokus ke proses diri, bukan pencapaian orang lain. Jika hati mulai iri, itu tanda kita perlu berhenti sejenak dari layar dan kembali ke sajadah.

Ramadhan bisa menjadi momentum reset. Bukan harus menghapus semua aplikasi, tapi mulai bertanya:
Apakah media sosial ini mendekatkan aku pada Allah, atau justru menjauhkan?

Mengganti waktu scrolling dengan membaca Al-Qur’an, mengikuti akun dakwah yang menenangkan, atau menyebarkan konten positif adalah bentuk hijrah yang relevan bagi generasi hari ini.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad)

Jangan sampai puasa kita gugur pahalanya hanya karena jari yang tak terjaga.

Menjaga hati dan pergaulan di era media sosial adalah tantangan nyata bagi Gen Z. Ramadhan datang bukan untuk memutus kita dari dunia digital, tetapi untuk memberi kendali. Ketika jempol ikut berpuasa, hati lebih tenang, dan pergaulan lebih terarah, maka Ramadhan benar-benar menjadi bulan perubahan. Semoga Ramadhan ini bukan hanya menahan lapar, tapi juga menumbuhkan kesadaran: bahwa setiap sentuhan layar pun akan dimintai pertanggungjawaban.