Skip to main content

Oleh : Usatdz Arip Saripudin

Pergantian tahun adalah salah satu tanda kekuasaan Allah ﷻ yang sering dilalui manusia tanpa perenungan mendalam. Padahal Allah menegaskan bahwa silih bergantinya waktu bukanlah peristiwa biasa, melainkan sarana bagi hamba yang ingin berpikir dan bersyukur. Allah ﷻ berfirman: “Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau bersyukur” (QS. Al-Furqan: 62). Tahun demi tahun yang berlalu sejatinya adalah pesan ilahi bahwa umur manusia terbatas, sementara tanggung jawab amal terus berjalan. Setiap pergantian tahun seharusnya menjadi lonceng kesadaran, bukan sekadar pergantian kalender.

Tahun 2025 telah berlalu dan meninggalkan banyak pelajaran berharga dalam kehidupan. Ada keberhasilan yang patut disyukuri dan kegagalan yang wajib direnungi. Seorang mukmin tidak boleh mengulang kesalahan yang sama tanpa perbaikan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang mukmin tidak akan jatuh pada lubang yang sama dua kali” (HR. Bukhari dan Muslim). Karena itu, setiap peristiwa di tahun 2025 harus menjadi bahan evaluasi diri, bukan sekadar cerita masa lalu. Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه mengingatkan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.” Muhasabah inilah yang membedakan antara orang yang tumbuh dan orang yang stagnan.

Memasuki tahun 2026, seorang insan beriman dituntut untuk menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Islam tidak mengenal konsep berhenti di tempat, apalagi mundur. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung” (HR. Al-Hakim). Tahun baru seharusnya melahirkan semangat baru, komitmen baru, dan kesadaran baru bahwa waktu terus berkurang. Allah ﷻ menegaskan bahwa perubahan hidup hanya akan terjadi ketika manusia mau mengubah dirinya sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11).

Namun menjadi lebih baik tidak akan terwujud tanpa tujuan hidup yang jelas. Tahun 2026 harus dimulai dengan penentuan arah dan makna sukses yang benar. Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Allah ﷻ berfirman: “Carilah kebahagiaan negeri akhirat dengan apa yang Allah berikan kepadamu, dan jangan lupakan bagianmu di dunia” (QS. Al-Qashash: 77). Sukses sejati bukan sekadar materi dan jabatan, tetapi ketenangan iman, keberkahan amal, serta hidup yang bermanfaat bagi orang lain.

Para ulama terdahulu sangat serius dalam memaknai waktu dan pergantian hari. Imam Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari; setiap hari berlalu, maka sebagian dari dirimu ikut pergi.” Karena itu, mereka menjadikan setiap tahun sebagai momentum peningkatan iman, ilmu, dan akhlak. Imam Syafi’i رحمه الله bahkan mengingatkan, “Waktu itu seperti pedang, jika engkau tidak memanfaatkannya, maka ia akan memotongmu.” Nasihat ini relevan sepanjang zaman, termasuk di awal tahun 2026.

Berusaha tampil lebih baik adalah bagian dari tuntutan iman, bukan sekadar pilihan. Perbaikan itu mencakup kesucian hati, kejujuran niat, dan kesungguhan amal. Allah ﷻ berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh rugi orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syams: 9–10). Tahun baru seharusnya mendorong manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri. Perubahan kecil yang konsisten jauh lebih bernilai daripada niat besar tanpa tindakan.

Akhirnya, pergantian tahun adalah nasihat Allah bagi manusia agar tidak terbuai oleh waktu. Allah bersumpah dengan masa dalam Surah Al-‘Ashr, menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati. Semoga tahun 2026 menjadi tahun muhasabah, taubat, dan peningkatan kualitas diri, bukan sekadar bertambah usia, tetapi bertambah nilai di sisi Allah ﷻ. Karena sejatinya, orang yang paling beruntung bukanlah yang paling lama hidup, melainkan yang paling baik amalnya.