Skip to main content

Oleh : Hanif Sukriyanto, B.A

Sebuah kisah tentang sebatang pohon kurma yang patut kita renungkan. Dalam sebuah hadits dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhu ia berkata:

 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَى شَجَرَةٍ أَوْ نَخْلَةٍ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْ الْأَنْصَارِ أَوْ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نَجْعَلُ لَكَ مِنْبَرًا قَالَ إِنْ شِئْتُمْ فَجَعَلُوا لَهُ مِنْبَرًا فَلَمَّا كَانَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ دُفِعَ إِلَى الْمِنْبَرِ فَصَاحَتْ النَّخْلَةُ صِيَاحَ الصَّبِيِّ ثُمَّ نَزَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ تَئِنُّ أَنِينَ الصَّبِيِّ الَّذِي يُسَكَّنُ

 

Bahwa Nabi ﷺ pernah di suatu hari Jumat berdiri di atas batang pohon atau batang pohon kurma (yang sudah ditebang) lalu ada seorang wanita atau seorang laki-laki Anshar berkata, Wahai Rasulullah “Bagaimana kalau kami buatkan mimbar untuk baginda?.’ Beliau menjawab, “Silakan, bila kalian kehendaki.” Maka mereka membuatkan untuk beliau sebuah mimbar. Ketika hari Jumat beliau naik ke atas mimbar lalu batang pohon kurma tadi berteriak bagaikan teriakan bayi. Maka kemudian Nabi ﷺ turun menghampiri batang pohon tersebut lalu memeluknya sehingga teriakannya melemah hingga bagaikan rintihan bayi yang sedang didiamkan. (Al-Bukhari)

 

Pohon kurma itu menangis karena merasa kehilangan Rasulullah. Seorang yang sangat ia cintai. Pohon kurma itu rindu kepada Rasulullah, yang biasanya berkhutbah diatasnya sekarang telah berpindah ke sebuah mimbar yang baru.

 

Inilah rasulullah sosok yang dicintai dan dirindukan, tidak hanya oleh orang-orang beriman akan tetapi juga makhluk-makhluk Allah yang lain seperti pepohonan, bebatuan, gunung dan hewan-hewan. Bagi seorang Muslim mencintai Nabi tidak hanya sekedar anjuran akan tetapi adalah sebuah kewajiban. Maka sudah harus menjadi perhatian seorang muslim untuk terus menjaga dan menumbuhkan rasa cinta yang besar kepada rasulullah, maka diantara kiat-kiat untuk menggapai hal tersebut:

1. Mencintai rasulullah ﷺ melebihi kecintaan kepada diri sendiri, keluarga dan seluruh manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

اَلنَّبِيُّ اَوْلٰى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ اَنْفُسِهِمْ

 

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri“. [al Ahzab : 6].

 

Juga sabda rasulullah ﷺ :

 

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ رواه البخاري

 

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”. (Al-Bukhori)

 

2. Beradab kepada rasulullah ﷺ

 

Di antara bentuk adab kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah memuji beliau dengan pujian yang layak baginya. Pujian yang paling mendalam ialah pujian yang diberikan oleh Rabb-nya dan pujian beliau terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama adalah shalawat dan salam kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

 

“Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.”(At-tirmidzi dan Ahmad)

 

3. Ittiba’ (mencontoh) rasulullah ﷺ serta berpegang pada petunjuknya.

Seperti seorang pelanggan yang yang memesan pakaian yang dijahit dengan ukuran yang sudah disesuaikan, maka apabila si penjahit mengerjakan tugasnya diluar ukuran yang ada maka bagaimana hasil dari jahitan tersebut mau diterima oleh pelanggan, inilah ilustrasi singkat tentang tertolaknya amal ibadah yang tidak sesuai tuntunan rasululla

karena itulah Allah Ta’ala berfirman,

 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

 

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imron: 31)

 

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

 

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

 

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (ajaran Nabi) itu sudah cukup bagi kalian. Semua amalan yang tanpa tuntunan Nabi (baca: bid’ah) adalah sesat.” (At-thobroniy)

 

4. Membela juga mencintai para sahabat dan Istri-istri rasulullah ﷺ (Ummahatul Mu’minin) –radhiyallahu ’anhum-

 

Rasulullah ﷺ bersabda,

 

لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

 

”Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku. Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya.” (Muslim)

 

Di antara hak-hak para sahabat adalah mencintai dan meridhoi mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

 

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

 

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr: 10)

 

Sungguh aneh jika ada yang mencela sahabat sebagaimana yang dilakukan oleh Rafidhah (Syi’ah). Mereka sama saja mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Malik dan selainnya rahimahumullah mengatakan, “Sesungguhnya Rafidhah hanyalah ingin mencela Rasul. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu jelek, maka berarti sahabat-sahabatnya juga jelek. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu sholih, maka sahabatnya juga demikian.” (Minhaajus Sunnah)

 

Dalam kitab Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beliau menyebutkan bahwa Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Siapa saja yang mencela Abu Bakr, maka ia pantas dihukum cambuk. Siapa saja yang mencela Aisyah, maka ia pantas untuk dibunuh.” Ada yang menanyakan pada Imam Malik, ”Mengapa bisa demikian?” Beliau menjawab, ”Barangsiapa mencela mereka, maka ia telah mencela Al Qur’an karena Allah Ta’ala berfirman (agar tidak lagi menyebarkan berita bohong mengenai Aisyah)

 

يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

 

“Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. An Nur: 17)”