Oleh : Arip Saripudin, M.A., Ph.D

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْبَرَكَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَقَالَ أَيْضًا: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Di hari Jumat yang penuh barakah di bulan Ramadhan ini, marilah kita haturkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, ia adalah sebuah “Madrasah Ruhani” yang didesain untuk merekonstruksi karakter kita.

Khatib berwasiat, marilah kita tingkatkan ketaqwaan. Taqwa yang bukan hanya tampak saat kita bersujud di sajadah, tapi taqwa yang menjelma menjadi integritas saat kita memegang amanah negara di lembaga ini.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ramadhan adalah bulan di mana kita menyiapkan estafet ketaqwaan. Namun, mari kita renungkan satu pelajaran besar dari Al-Qur’an: Kekhawatiran terbesar manusia-manusia paling mulia di muka bumi.

Jika kita saat ini sering merasa cemas akan masa depan ekonomi, cemas akan kenaikan inflasi, atau cemas akan jabatan kita di masa depan, maka mari kita lihat apa yang dicemaskan oleh para Nabi Allah.

Pertama, Mari kita lihat Nabi Zakariya AS.

Beliau mencapai usia senja, rambut memutih, tulang melemah, dan secara biologis mustahil memiliki anak. Namun, dalam doanya di kesunyian malam, yang beliau keluhkan kepada Allah bukanlah kesepian di masa tua. Beliau berbisik:

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي

“Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku (penerusku) sepeninggalku…” (QS. Maryam: 5).

Kata khiftu (aku khawatir) di sini sangat mendalam. Beliau tidak takut hartanya habis, beliau takut tidak ada lagi pundak yang siap memikul beban dakwah. Beliau takut agama Allah ini menjadi “asing” karena tidak ada generasi yang membelanya. Maka beliau meminta anak bukan untuk menjadi teman bermain, tapi untuk menjadi pewaris nilai.

Pesan untuk kita: Apakah kita lebih khawatir anak kita tidak memiliki pekerjaan yang mapan, atau kita lebih khawatir anak kita tidak lagi mengenal sujud kepada Allah setelah kita tiada?

Kedua, Mari kita lihat Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub AS.

Al-Qur’an merekam sebuah dialog kritis saat maut menjemput Nabi Ya’qub. Beliau tidak bertanya, “Berapa banyak harta yang kalian kumpulkan?” atau “Bagaimana kalian akan makan?”. Beliau mengumpulkan anak-anaknya dan melontarkan pertanyaan yang menggetarkan arsy:

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي …

“Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?” (QS. Al-Baqarah: 133).

Pertanyaan ini adalah pertanyaan Ideologi dan Pondasi. Beliau ingin memastikan bahwa “Pendidikan Iman” yang diberikan selama puluhan tahun tidak luntur hanya karena sang ayah sudah tiada. Beliau khawatir generasi setelahnya menjadi generasi yang pragmatis, yang menjual iman demi kesenangan dunia yang sesaat.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Apa relevansinya dengan kita di Bank Indonesia hari ini?

Pendidikan Ramadhan yang kita jalani adalah proses pengisian “Baterai Iman”. Para Nabi mengajarkan kita bahwa musuh terbesar sebuah bangsa dan peradaban bukanlah kemiskinan harta, melainkan kemiskinan karakter dan hilangnya penerus nilai.

Apa gunanya sistem ekonomi yang canggih jika dijalankan oleh manusia yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah?

Apa gunanya institusi yang megah jika di dalamnya tidak ada lagi “penerus” kejujuran Nabi Yusuf?

Para Nabi merasa khawatir karena mereka tahu: Agama dan karakter tidak turun secara otomatis melalui genetika. Ia harus dididik, dijaga, dan diwariskan dengan penuh kesadaran.

Jika hari ini kita merasa sudah berpuasa, sudah shalat malam, dan sudah merasa shalih, tanyakan pada diri kita: Siapa yang akan menjamin ketaqwaan ini tetap tegak di meja-meja kantor kita saat Ramadhan berlalu? Siapa yang akan menjamin integritas ini tetap ada pada anak-anak kita saat kita sudah tidak lagi bisa mengawasi mereka?

Kekhawatiran para Nabi adalah “Alarm” bagi kita semua agar tidak terlena dengan keshalihan individu yang sementara. Kita butuh keshalihan kolektif yang terstruktur, yang pondasinya adalah Tauhid, dan bangunannya adalah karakter yang kokoh—sebagaimana yang kita latih di madrasah Ramadhan ini.

Ini adalah pesan tentang konsistensi (Istiqamah). Bahwa orientasi hidup sebagai hamba Allah tidak boleh bergeser sedikit pun, meski kita telah lulus dari pendidikan formal maupun madrasah Ramadhan.

Hadirin yang berbahagia,

Pendidikan Islam yang berkemajuan mengajarkan kita bahwa ibadah harus melahirkan “Istana Karakter”.

Ramadhan melatih kita selama 30 hari untuk jujur. Kita bisa saja minum di tempat tersembunyi, namun kita tidak melakukannya karena merasa diawasi Allah (Muraqabah). Jika karakter ini telah menjadi “Istana”, maka ia tidak akan mudah runtuh oleh badai godaan di luar sana.

Ingatlah, sebuah bangunan hanya akan rusak jika penghuninya membiarkan pintu-pintunya dirusak. Lingkungan mungkin mempengaruhi, tetapi keputusan akhir ada pada diri kita. Al-Qur’an memberikan dua potret ekstrem dalam Surah At-Tahrim:

Asiyah (Istri Fir’aun): Hidup di “pusat gravitasi” kezaliman dunia, namun imannya tetap kokoh laksana karang. Lingkungan buruk tidak mampu merusak emas murni di hatinya.

Istri Nabi Nuh dan Luth: Hidup di lingkungan wahyu yang suci, namun mereka memilih jalan pengkhianatan.

Ini membuktikan bahwa di kantor sehebat apa pun atau di lingkungan seburuk apa pun, kitalah yang memegang kendali atas integritas diri kita sendiri.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita bedah lebih dalam teladan Nabi Yusuf AS, sosok yang sangat relevan bagi insan perbankan dan kebijakan publik. Beliau adalah prototipe manusia dengan karakter yang paripurna.

Ketika beliau berada di penjara—tempat yang penuh dengan stigma negatif—para tahanan justru berkata:

إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Kami melihat engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik (Ihsan).” (QS. Yusuf: 36).

Kalimat yang sama diucapkan oleh saudara-saudara Nabi Yusuf Ketika menjadi Pejabat Al Aziz ketika mereka memohon belas kasihan beliau agar melepaskan Benyamin. Mereka Berkata “ Inni Narooka Minal Muhsinin “ Ini membuktikan karakter beliau tidak berubah meski posisi dunianya berubah.

Apa rahasia karakter Nabi Yusuf?

Beliau menggabungkan dua hal: Integritas dan Kompetensi.

Saat beliau ditawarkan jabatan bendahara negara (setara dengan otoritas moneter/keuangan), beliau berkata:

اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

“Jadikanlah aku bendaharawan negara; sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (Hafidzh) lagi mempunyai pengetahuan (Alim).” (QS. Yusuf: 55).

Hafidzh (Integritas): Beliau adalah penjaga yang amanah. Beliau tidak menyalahgunakan wewenang meski memiliki kesempatan.

Alim (Kompetensi): Beliau ahli dalam manajemen logistik dan ekonomi untuk menghadapi masa paceklik.

Nabi Yusuf mengajarkan kita bahwa keshalihan ritual (Ramadhan) harus bertransformasi menjadi keshalihan profesional. Beliau tetap menjadi “Yusuf yang mulia” saat menjadi budak, saat di penjara, maupun saat memegang kunci perbendaharaan negara. Tempat tidak mengubah kualitasnya; justru kualitasnyalah yang mengubah tempat tersebut.

Hadirin Rahimakumullah,

Nilai-nilai Islam yang berkemajuan menekankan bahwa agama adalah Dinan Qayyman—agama yang menegakkan kehidupan (QS. Ar-Rum: 30). Kita dididik di bulan Ramadhan bukan sekadar untuk menimbun pahala pribadi, tapi untuk “bangkit dan memberi peringatan” (Qum fa andzir).

Untuk menjaga pondasi karakter ini agar tidak keropos setelah Ramadhan, Allah memberikan resep dalam Surah Al-Muzzammil: Qiyamul Lail.

Shalat malam adalah sarana memperkuat struktur ruhani. Orang yang memiliki hubungan kuat dengan Allah di saat sunyi, akan memiliki ketahanan mental dan moral yang luar biasa di siang hari yang penuh tekanan pekerjaan.

Sebagai kesimpulan khutbah pertama:

Ramadhan adalah masa penguatan pondasi. Pasca Ramadhan nanti, marilah kita bawa karakter Nabi Yusuf ke meja kerja kita: Jadilah sosok yang Hafidzh (terpercaya/integritas tinggi) dan Alim (profesional/kompeten).

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ…

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Hari ini kita berada di penghujung pekan kedua Ramadhan. Madrasah kita belum usai, namun ujian konsistensi sudah mulai datang. Sebagaimana para Nabi yang khawatir akan kelanjutan iman generasinya, kita pun harus khawatir: “Apakah semangat integritas di awal Ramadhan ini akan mulai mengendur di pekan-pekan berikutnya?”

Ingatlah, karakter bukan dibangun dalam semalam, dan ia tidak pula hancur dalam sekejap. Ia runtuh karena kelalaian-kelalaian kecil yang kita biarkan.

Di sisa Ramadhan ini, mari kita perkuat kembali tiga komitmen utama:

Evaluasi Pondasi: Jangan biarkan ibadah kita menjadi rutinitas tanpa makna. Kembalikan orientasi kita kepada Tauhid. Pastikan setiap sen yang kita kelola, setiap kebijakan yang kita ambil di lembaga ini, tetap dalam koridor “Apa yang disukai Allah?” sebagaimana kekhawatiran Nabi Ya’qub terhadap generasi setelahnya.

Meneladani Keteguhan Yusuf AS: Nabi Yusuf tidak menjadi mulia karena beliau berada di istana, tapi karena beliau mampu membawa “cahaya ketaqwaan” bahkan ke dalam gelapnya penjara. Maka di sisa Ramadhan ini, mari buktikan bahwa karakter kita tidak ditentukan oleh beban kerja yang berat atau lingkungan yang menekan, melainkan oleh kekuatan prinsip yang kita pegang.

Memperkuat Stamina Ruhani: Manfaatkan malam-malam yang tersisa untuk Qiyamul Lail. Jika para Nabi sangat khawatir akan masa depan agama ini, maka kita harus lebih khawatir jika diri kita tidak memiliki kontribusi bagi tegaknya kebenaran dan integritas di institusi ini.

Mari kita jadikan dua pekan ke depan sebagai momentum untuk memperkokoh “Istana Karakter” kita. Jangan sampai saat hari kemenangan tiba, kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga, namun kehilangan pondasi iman yang seharusnya kita bangun.

(Doa Penutup)

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا بَقِيَ مِنْ رَمَضَانَ، وَأَعِنَّا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَتِلاَوَةِ قُرْآنِهِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُوْلِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.