Oleh: Eneng Sonia, S.E
Pernahkah kita merenung di sudut selasar pesantren? Menyaksikan lembaran kitab suci dibacakan, melihat langsung bagaimana para asatidz dan asatidzah mencontohkan indahnya akhlak, membersihkan halaman, hingga menyapa dengan senyum tulus setiap hari.
Semua teori tentang adab sudah khatam diajarkan. Teladan nyata pun setiap hari dicontohkan. Namun, sebuah pertanyaan besar sering kali menggelitik hati kita: Mengapa kepekaan itu belum juga tumbuh?
Mengapa masih ada sampah yang terlewati tanpa ada tangan yang tergerak memungutnya? Mengapa masih ada keluh kesah saat tugas menyapa? Dan mengapa relung hati ini terkadang masih terasa bebal dengan rasa empati?
Untukmu, Para Santri: Mengetahui Saja Tidak Cukup
“Ilmu itu bukan sekadar apa yang dihafal, melainkan apa yang memberi manfaat dan melahirkan amal.”
Wahai para santri, pencari ilmu yang dicintai Allah. Pesantren bukan sekadar tempat untuk memindahkan tulisan dari kitab ke dalam kepala. Pesantren adalah laboratorium rasa.
Jika hari ini kamu masih menunggu perintah untuk membantu temanmu yang kesulitan, jika matamu masih acuh melihat fasilitas pondok yang rusak, mari tanyakan pada hati masing-masing: Untuk apa ilmu yang kita pelajari jika tidak melembutkan hati?
Kepekaan tidak tumbuh dari hafalan yang kuat, melainkan dari keikhlasan untuk peduli.
_Mulailah dari hal kecil:_ Jangan tunggu ustadz menyuruh untuk merapikan sandal.
_Gunakan mata hatimu:_ Lihatlah lelahnya teman kamarmu, ringankan beban mereka.
_Rasakan keberadaan sekitarmu:_
Karena santri sejati adalah mereka yang kehadirannya membawa kenyamanan dan kepergiannya meninggalkan kerinduan.
Untuk Ayah Bunda: Menenun Doa di Setiap Ikhtiar
Menyaksikan buah hati belum sepenuhnya mandiri atau belum peka terhadap lingkungan sekitar terkadang menimbulkan rasa lelah dan tanya di dalam dada. Kurang apa lagi kami mendidiknya?”
Ayah, Bunda yang dirahmati Allah… menumbuhkan kepekaan di dalam jiwa seorang anak adalah proses menanti mekarnya bunga. Ia tidak bisa dipaksa mekar dalam semalam.
Apa yang sudah kita lakukan. Apa yang Perlu Kita Lanjutkan
● Mengajarkan turan dan adab di rumah.
● Mendoakan hidayah menyentuh lubuk hatinya di sepertiga malam. |
● Mencontohkan kepedulian sosial
● Melatih kesabaran dan konsistensi tanpa bosan menegur dengan kasih sayang.
● Menyerahkan ke pesantren untuk ditempa.
● Sinergi dan husnudzon (berprasangka baik) pada proses pendidikan di pondok.
Sering kali, kepekaan itu belum tumbuh bukan karena mereka tidak tahu, melainkan karena ego mudanya sedang bertarung dengan kedewasaan. Di sinilah tugas kita belum usai. Mari bentengi ikhtiar lahiriah ini dengan memperpanjang sujud dan doa kita. Mohonlah kepada Sang Pemilik Hati agar mencabut ego dari dada anak-anak kita dan menggantinya dengan pancaran empati.
Menumbuhkan kepekaan adalah perjalanan spiritual bersama. Pesantren mengajar dan mencontohkan, orang tua mendoakan dan menguatkan, dan santri berjuang untuk mempraktikkan.
Mari kita berhenti sejenak, mengevaluasi diri, dan mulai membuka mata hati. Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi dunia sedang mengalami krisis orang-orang yang memiliki kepekaan hati.
Mari bersama-sama menumbuhkan rasa itu, dari pesantren untuk umat.
