Oleh: Hanif Sukriyanto, B.A

Terdapat salah satu kisah yang dibawakan dari Kitab Syarh Riyadhus Shalihin, karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta’ala disebutkan:
“Dahulu ada seorang dari Ahlu Hisbah; mereka adalah orang-orang pemerintahan yang tugasnya melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Suatu ketika, salah satu anggotanya melewati seseorang yang sedang menimba air dari sumur untuk unta-untanya saat azan magrib. Di antara kebiasaan mereka (pengembala unta) saat bekerja adalah mereka membaca hida bersama unta-untanya. Maksud (hida) adalah syair yang dilantunkan agar unta-unta energik; karena unta biasanya akan (terlihat) energik ketika dibacakan syair tertentu.

Maka datanglah orang Ahlu Hisbah itu bersama kawan-kawannya. Dia menegur dengan kata-kata kasar kepada pengembala unta yang telah lelah bekerja, maka dipukulah Ahlu Hisbah tersebut dengan tongkat panjang kokoh yang dibawa oleh pengembala unta. Larilah Ahlu Hisbah tersebut ke masjid dan berjumpa dengan seorang syaikh – seorang ulama yang dikatakan keturunan Syaikh Muhammad At-tamimiy – rahimahullah – Lantas dia menceritakan (apa yang terjadi), ‘Aku melakukan demikian dan demikian, dan orang itu memukul aku dengan tongkatnya.”

“Maka keesokan harinya, sebelum tenggelamnya matahari, Syaikh pergi sendiri ke tempat yang diceritakan. Dia berwudu dan meletakkan jubahnya di suatu kayu yang ada di dekat sumur. Kemudian terdengarlah azan magrib, lantas dia berhenti seakan-akan ingin mengambil jubah. Kemudian syaikh berkata kepada pengembala unta (yang ada di dekatnya), ‘Wahai fulan … wahai saudaraku, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Kamu adalah orang yang mencari kebaikan dengan amal ini (amalan yang dimaksud adalah menimba air di sumur yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain, unta-untanya, dan oleh syaikh ini untuk berwudu). Dan kamu seorang yang baik. Akan tetapi, saat ini sudah terdengar azan magrib. Andai kamu berkenan pergi shalat magrib terlebih dahulu, lalu kembali lagi, maka kamu tidak akan rugi.’ Syaikh mengatakan hal tersebut dengan perkataan yang lembut.”

“Lantas pengembala unta itu menjawab, ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. (Kemudian dia bercerita) kemarin ada orang kasar yang lewat, dia membentakku. Dia mengucapkan perkataan yang buruk yang membuatku marah. Maka aku tidak bisa mengendalikan diri sehingga aku memukulnya dengan tongkat.”

“Maka syaikh mengatakan, ‘Masalah seperti itu tidak perlu menggunakan kekerasan. Kamu adalah orang yang cerdas.’ Syaikh berbicara dengan lembut kepadanya. Setelah itu, pengembala unta tersebut menyandarkan tongkatnya yang (biasa) ia gunakan untuk memukul unta, kemudian pergi shalat dengan kepatuhan dan dengan hati yang lapang.”

Kita lihat bagaimana peranan kelembutan dalam menyampaikan kebaikan sangatlah efektif bagi para pendengarnya, Apabila cara menyampaikan dilakukan dengan cara yang baik maka akan mewujudkan maksud yang diinginkan. Lain halnya jika niatnya baik namun caranya dengan cara-cara yang kasar maka akan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.
Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما كان الرفق في شيء إلا زانه ، وما ينزع من شيء إلا شانه

“Tidaklah lemah lembut ada pada sesuatu, kecuali membuat sesuatu tersebut nampak indah, dan tidaklah lemah lembut dicabut dari sesuatu kecuali menyebabkan sesuatu tersebut menjadi buruk.” [HR. Muslim] Didalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الله يعطي على الرفق ما لا يعطي على العنف

“Sesungguhnya Allah akan memberikan (manfaat) terhadap sikap lembut (suatu hal) yang Allah tidak berikan kepada sikap kasar.” [HR. Muslim]