Oleh: Akhmad Nur Majid, S.Pd

Di era modern ini, dunia seolah kehilangan sekat. Dengan satu ketukan jari di layar ponsel, opini kita bisa terbang menyeberangi benua, dibaca oleh ribuan bahkan jutaan mata dalam hitungan detik. Media sosial telah memberi kita panggung yang sangat luas untuk berekspresi. Namun, di balik kemudahan ini, tersembunyi sebuah ancaman senyap yang kerap kali kita abaikan: kegagalan mengendalikan lisan dan ketikan.

Kata-kata memiliki kekuatan magis. Ia bisa menjadi pelipur lara bagi hati yang patah, memotivasi jiwa yang rapuh, dan menyatukan umat yang terpecah. Namun, sebaliknya, kata-kata yang sama juga memiliki daya hancur yang luar biasa. Fitnah, cacian, hoaks, hingga perundungan siber (cyberbullying) berawal dari ketidakmampuan seseorang untuk menahan diri untuk tidak berbicara saat seharusnya ia diam.

Pepatah Arab mengatakan:

سَلَامَةُ الْإِنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ.

Artinya:
“Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.”

Dalam konteks hari ini, lisan tidak hanya merujuk pada apa yang keluar dari mulut, tetapi juga apa yang diketik oleh jemari. Artikel ini akan mengajak kita menyelami kembali sebuah prinsip fundamental yang perlahan mulai terkikis oleh hingar-bingar dunia maya: seni untuk memilih berkata yang baik, atau lebih baik diam.

Banyak orang mengira bahwa kecerdasan seseorang diukur dari seberapa banyak dan seberapa cepat ia mampu merespons suatu masalah. Padahal, kebijaksanaan sejati justru sering kali diuji melalui kemampuan kita untuk menahan diri.

Timbangan Keimanan dalam Sebuah Ucapan

Dalam Islam, kualitas ucapan seseorang berbanding lurus dengan kualitas keimanannya. Berkata baik bukanlah sekadar etika sosial, melainkan indikator mutlak dari iman seseorang kepada Allah dan Hari Akhir. Rasulullah Muhammad ﷺ memberikan panduan yang sangat tegas:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Man kāna yu’minu billāhi wal-yawmil ākhiri fal-yaqul khayran aw liyasmut.”

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).

Hadits ini adalah pedoman tegas: jika seseorang ingin berbicara, ia harus berpikir terlebih dahulu. Jika ucapannya membawa manfaat, bicaralah. Namun, jika ucapannya berpotensi menyakiti atau sia-sia, maka diam adalah pilihan yang diwajibkan.

CCTV Ilahi yang Tak Pernah Tidur

Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur’an tentang pertanggungjawaban atas setiap kata yang terucap melalui pengawasan malaikat yang sangat teliti:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Mā yalfizhu min qawlin illā ladayhi raqībun ‘atīd.”

Artinya: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (Raqib dan Atid).” (QS. Qaf: 18).

Ayat ini merupakan peringatan bahwa tidak ada satu pun kata atau komentar yang menguap begitu saja. Semuanya terekam dengan rapi dan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.

Untuk memahami betapa beratnya perkara lisan ini, mari kita menyimak sebuah dialog antara Rasulullah ﷺ dengan sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.

Setelah menjelaskan berbagai pintu kebaikan seperti salat dan zakat, Rasulullah ﷺ memberikan kunci utama dari semua amal tersebut. Beliau memegang lidahnya sendiri dan berkata:

كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا

“Kuffa ‘alaika hādzā.”

Artinya: “Tahanlah ini (lisanmu).”

Mu’adz yang terkejut bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah kita benar-benar akan disiksa karena apa yang kita ucapkan?” Rasulullah ﷺ kemudian memberikan jawaban yang sangat menggetarkan hati:

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Wa hal yakubbun-nāsa fin-nāri ‘alā wujūhihim illā hashā’idu alsinatihim.”

Artinya: “Bukankah yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka dengan wajah tersungkur adalah akibat dari panen lisan mereka sendiri?” (HR. Tirmidzi no. 2616).

Kisah ini menegaskan bahwa ibadah fisik yang banyak sekalipun bisa menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan kemampuan menjaga lidah dari menyakiti orang lain.

Menjaga lisan adalah seni tingkat tinggi dalam manajemen diri. Ia membutuhkan pengendalian ego yang kuat. Jika kita merasa sulit untuk selalu berkata benar dan baik, maka setidaknya kita harus berusaha untuk tidak berkata buruk.

Sebagai langkah praktis, mari kita terapkan prinsip penyaringan sederhana:

  • Berpikir Sebelum Berucap: Apakah kata-kata saya ini benar dan bermanfaat?
  • Hindari Ghibah dan Fitnah: Jangan biarkan lisan kita memakan “daging” saudara sendiri.
  • Pilih Diam dalam Keraguan: Jika tidak tahu kebenaran suatu berita, diam adalah keselamatan.

Sebagai penutup, mari kita renungkan: Jika kata-kata kita tidak mampu membuat dunia ini menjadi lebih baik, maka diamnya kita adalah kontribusi terbaik agar dunia tidak menjadi lebih buruk. Berkata baiklah, atau lebih baik diam.

Barakallahu fiikum, wallahu a’lam