Oleh: Atabiya Radhwa Sagena Hasyim

Di asrama kehidupan santri, ada yang berbeda gaya hidupnya. Semuanya berbeda.

Ada santri yang rapi, ada yang berantakan, ada yang rajin, ada yang malas, banyak yang bertolak belakang. Itulah kehidupan santri, di mana belajar tentang sosialita dengan teman yang berbeda sifatnya,berbeda asal,berbeda ekonomi. Di situlah santri dilatih untuk mandiri, untuk menjadikan pribadinya sendiri. Ia ingin menjadi apa, dan bagaimana, itulah keputusan dari kesadaran seorang santri sendiri.

Kita tidak boleh benar-benar berharap sepenuhnya kepada pondok bahwa santri akan bisa langsung berubah karena masuk pondok, pada hakikatnya, dirinya sendirilah yang beradaptasi menyesuaikan lingkungan sekolah dan pertemanan di pondok, bukan menunggu pondok yang merubahnya, pondok hanya membantu, urusan menjadi pribadi yang baik itu tergantung santrinya.

Di pondok, mungkin akan banyak teman, namun dalam pertemanan juga harus ada adabnya, dalam meminjam barang temannya, dalam membuka privasi temannya, dalam Qur’an surah An-Nur ayat 27menjelaskan bahwa Kita tidak boleh untuk masuk ke dalam rumah tanpa meminta izin kepada penghuninya.

يا أيها الذين آمنوا لا تدخلوا بيوتا غير بيوتكم حتى تستأنسوا على أهلها ذلكم خير لكم لعلكم تذكرون

Bisa diibaratkan dalam kehidupan pondok bahwa memasuki rumah saja harus meminta izin, apalagi dalam perpinjaman barang dengan teman tentu juga harus ada izinnya. Apalagi kita menjalani kehidupan bersama, sedang berjuang bersama, harus mempunyai ukhuwah yang kuat dalam kehidupan santri ini.