Oleh: Atabiya Radhwa Sagena Hasyim

Santri itu pasti diekspektasi tinggi sama orang-orang luar. Bayangannya, santri itu disiplin, sopan, rajin,berbakat, pintar tentang agama, dan sebagainya. Bahkan ada orang tua yang berpikir untuk memasukkan anaknya ke pondok buat ngerubah sifat dia, padahal konteks ya di sini pondok bukan tukang sihir yang bisa ngerubah anak yang masuk ke dalamnya.

Pondok hanya membantu santrinya untuk menjadi baik, pondok hanya pemantik buat santrinya yang mau berubah, yang mau taat aturan dan patuh sama guru. Kalau tentang sifat, balik lagi dari diri santri,karena yang bisa mengubah santri hanyalah diri sendiri, walau banyak ustadz/ustadzah yang selalu support santri yang nakal untuk berubah, jika dalam santri sendiri belum menjiwai bahwa ia santri maka pasti dia akan tetap bebel.

Dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11 dijelaskan bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

Peran pondok di sini mendidik santri untuk memberi tahu agar mereka menjiwai santrinya, lalu bermujahadah, dimasukkan banyak-banyak ilmu agama biar kuat pondasi imannya. Lantas saat santri keluar dari pondok mereka bisa ditempatkan di mana saja, sudah punya mental yang kokoh, tidak mudah direndahkan. Santri disiapkan untuk menjadi Generasi Emas dan mengubah dunia yang sudah hancur seperti sekarang ini, lebih tepatnya, orang tinggi yang hancur dan memengaruhi dunianya.

Santri didoktrin agar kelak bisa menjadi pejabat-pejabat yang adil, kuat ilmunya agar kepemerintahannya tidak menyeleweng dari syariat agama, santri dididik untuk bisa memimpin dan dipimpin dengan baik, dididik bahwa menjadi pemimpin bukanlah hanya jabatan tapi juga amanah dari Allah dan rakyat yang akan dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat.