
Oleh : Ririn Indah Romadloni, S.Pd., M.M
Kita hidup di zaman di mana semuanya harus serba cepat. Membalas pesan harus instan, pekerjaan harus segera deadline, bahkan makan pun seringkali sambil berdiri atau menatap layar ponsel. Tanpa sadar, kita kelelahan secara mental.
Kemudian, Ramadhan datang. Ramadhan sejatinya adalah “tombol jeda” (pause button) yang diberikan Allah subhanallau wata’ala agar kita berhenti sejenak dari kegilaan dunia. Ini bukan soal lemas karena lapar, tapi soal memberi ruang bagi jiwa untuk bernapas.
- Menemukan Kembali Makna “Menunggu”
Dulu, menunggu adalah hal yang membosankan. Tapi di bulan Ramadhan, menunggu menjadi momen yang paling syahdu. Menunggu waktu berbuka, menunggu waktu sahur, hingga menunggu antrian di penjual takjil. Di saat itulah kita belajar tentang kesabaran. Allah SWT berfirman dalam (QS. Al-Baqarah: 153)
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Ramadhan melatih kita bahwa hal-hal terbaik dalam hidup memang layak ditunggu dengan sabar.
- Digital Detox Tanpa Sadar
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk mengurangi kebisingan di kepala. Saat kita sibuk dengan tadarus atau sekadar berkumpul dengan keluarga tanpa gangguan gawai, kita sedang menyembuhkan diri.
Kita sering lupa bahwa mata dan pikiran kita butuh istirahat dari informasi yang tak ada habisnya. Dengan “melambat”, kita jadi lebih peka terhadap hal-hal kecil: rasa syukur saat seteguk air menyentuh tenggorokan, atau hangatnya obrolan di meja makan.
- Bukan Soal “Seberapa Banyak”, Tapi “Seberapa Dalam”
Banyak dari kita terjebak dalam perlombaan : Sudah berapa kali khatam? Berapa banyak menu buka puasa hari ini? Padahal, esensi melambat adalah kualitas. Lebih baik satu ayat yang meresap ke hati daripada satu juz yang dibaca terburu-buru tanpa makna. Lebih baik satu sedekah sederhana dengan senyuman, daripada pamer kemewahan yang melelahkan hati.
Menikmati “Seni Melambat” di bulan Ramadhan tentu perlu tips, diantaranya ;
- Nikmati Sahur Tanpa Layar, Cobalah sahur tanpa memegang ponsel. Rasakan setiap kunyahan dan syukur atas nikmat rezeki.
- Hadir Utuh di Setiap Salat, Jangan terburu-buru. Nikmati setiap sujudmu seolah itu adalah komunikasi paling intim dengan Sang Pencipta.
- Kurangi “FOMO” (Fear of Missing Out), Tidak perlu tahu semua tren yang sedang viral. Fokuslah pada kedamaian batinmu sendiri.
Ramadhan adalah undangan untuk pulang ke diri sendiri. Mari berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Nikmati ritme yang lebih lambat, karena di dalam ketenangan itulah kita biasanya baru bisa mendengar suara hati dan petunjuk-Nya.
