Oleh: Atabiya Radhwa Sagena Hasyim
Istiqamah itu susah, tapi lebih susah lagi kalau tidak bisa istiqamah. Istiqamah tidak harus sempurna,sekaligus semua yang wajib ataupun nafilah harus dikerjakan, tapi Istiqamah itu sedikit demi sedikit yang penting kita tetap konsisten dalam mengerjakannya.
Ada kalanya mungkin kalau bolong sekali tidak apa, namun selanjutnya harus mempunyai mood untuk melakukan kekonsistenan, karena mood kita lah sebenarnya yang membuat diri ini jarang berkonsisten untuk istiqamah. Ada banyak bisikan rasa malas, lelah, bosan,dsb.
Sedikit demi sedikit namun tuntas, seperti perumpamaan kita membayar cicilan rumah, sedikit demi sedikit nyicil, tapi kalau konsisten pasti kita bisa melunasi cicilan itu. Konteks Istiqamah di sini juga menyicil,tapi bukan cicilan utang melainkan cicilan surga. Insya Allah, kita dijanjikan masuk surga barangsiapa yang beriman selalu kepada Allah. Lama-lama akan terbentuk pahala kita di surga nanti jika kita bisa istiqamah dengan beribadah ataupun perbuatan baik lainnya.
Dalam QS An-Nahl dikatakan bahwa siapa yang beriman maka akan diberikan balasan pahala yang setimpal
QS. An-Nahl: 97
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya : “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik pria maupun wanita dalam keadaan beriman, maka niscaya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri akhir dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” Poin istiqamah di sini bahwa siapapun, dan apapun pekerjaannya selama dia melakukan amal baik dan tetap beriman pasti dijanjikan hidup yang baik oleh Allah
