Oleh: Atabiya Radhwa Sagena Hasyim

Ternyata, kalau dipikir secara logika, musibah juga pasti lelah karena manusia-manusia ini tidak mengerti apa yang di balik musibah ini. Musibah tidak bermaksud untuk membuat masalah, mencelakai orang, tetapi musibah didatangkan untuk melihat cara pikir manusia. Siapa yang akan marah, siapa yang akan sedih,dan juga siapa yang mengambil hikmahnya.

Musibah juga datang dikala manusia-manusia sedang terlepas dari kemanusiaannya, melakukan hal yang bukan sewajarnya manusia, ia didatangkan agar mereka menyesal, menyadari bahwa kejadian ini datang karena mereka sendiri, bukannya menyadari justru mereka mengalahkan situasi.

Dalam buku berjudul Qur’anic Law of Attraction karya Rusdin S. Rauf, di halaman 83, ada ungkapan,”Saya senang memperoleh musibah dari Allah. Dengan begitu, saya selalu mengingat-ingat dosa dan kesalahan saya. Saya pun berlatih kesabaran dengan musibah yang menimpa kehidupan saya.Terima kasih, ya Allah”.

Dalam musibah harusnya kita menyadari, mensyukuri bahwa Allah memberi kita musibah, karena Allah masih menyayangi Kita, masih menegur kita, daripada kita sedang bermaksiat, tanpa aba-aba Allah langsung mencabut nyawa kita, tidak mendatangkan musibah lagi untuk menegur kita.

Yang Kita bisa lakukan saat ada perkara musibah hanyalah sabar, dan mengambil hikmahnya, Allah juga berpesan dalam Al-Qur’annya, dalam surah Al-Imran ayat 139.

ولا تهنوا ولا تحزنوا و أنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman””