Oleh: Atabiya Radhwa Sagena Hasyim

Tentang Jenderal Quraisy yang terkenal dengan kepemimpinan pasukan berkuda, lalu masuk Islam karena kesadarannya dalam memerangi pasukan Muslim yang sebenarnya benar, ia berpikir bahwa kecerdasan dia seharusnya digunakan untuk kebenaran. Ia memasuki Islam bukan karena kalah perang di pihak Quraisy melainkan karena hidayah dan kecerdasan akan kebenarannya.

Ia diberi gelar oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu Saifullah yang berarti Pedang Allah karena kemiliterannya, sekian banyak perang ia tidak pernah kalah, dan mempunyai taktik yang bagus sehingga diangkat juga menjadi panglima perang Muslim. Dengan sifat kepemimpinannya dalam perang dengan tenang, selalu mengutamakan kesejahteraan pasukannya.

Kalimat terkenalnya sebelum wafat, “Di tubuhku tidak ada satu pun bagian yang terkena luka tombak, pedang, atau panah. Namun kini aku mati di atas ranjang sebagaimana matinya seekor unta. Semoga mata para pengecut tidak pernah tidur tenang’. Sejarawan Barat pun mengakui bahwa ia adalah salah satu jenderal terbaik sepanjang masa.

Dalam buku berjudul “Menghilang, Menemukan Diri Sejati” karya Fahruddin Faiz, sebenarnya kita ini mengetahui banyak hal yang baik dan tidak baik, tapi kita belum punya kesadaran untuk melakukan yang kita tahu sebagai kebaikan atau menjauhi yang kita tahu sebagai keburukan. Kita bisa mengutip pelajaran bahwa Khalid bin Walid telah mempunyai kesadaran yang nyata bahwa ia sedang memerangi yang benar, lalu mendapatkan hidayah untuk menganut kebenaran.