Oleh: Hanif Sukriyanto, B.A
Belajar ilmu agama Islam secara langsung melalui bimbingan seorang guru (ulama) merupakan kewajiban mutlak yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan (AI) maupun mesin pencari internet. Di era digital, kemudahan akses informasi keagamaan sering kali menjebak seseorang dalam pemahaman yang instan dan dangkal. Padahal, Islam memandang ilmu bukan sekadar data atau teks mati yang bisa diolah algoritma, melainkan cahaya spiritual yang harus ditransfer melalui interaksi langsung antara guru dan murid.
Ketergantungan pada internet tanpa bimbingan ahli justru membuka celah besar bagi kesalahpahaman, penyimpangan, dan hilangnya keberkahan ilmu. Secara normatif, Al-Qur’an telah menegaskan bahwa otoritas keilmuan berada di tangan para ahli ilmu, bukan pada media atau perangkat teknologi. Allah ta’ala berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 43:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43).
Ayat ini secara jelas memerintahkan umat Islam untuk merujuk kepada Ahlul Dzikri (para ulama yang ilmunya mendalam) ketika menghadapi perkara yang tidak dipahami.
AI dan internet, secanggih apa pun sistemnya, tidak memiliki sifat kemanusiaan dan kearifan spiritual yang diperlukan untuk menafsirkan teks-teks suci sesuai konteks kehidupan nyata. Salah satu pilar terpenting dalam tradisi intelektual Islam adalah sanad (silsilah guru yang bersambung hingga Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam). Keberadaan sanad berfungsi menjaga orisinalitas dan kemurnian ajaran Islam dari pemikiran yang menyimpang. Ulama besar tabi’in, Imam Abdullah bin Mubarak, menegaskan pentingnya hal ini dalam mukadimah Shahih Muslim:
اَلْإِسْنَا دُ مِنَ الدِّيْنِ، وَلَوْلَا الْإِسْنَا دُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
“Sanad itu bagian dari agama, kalaulah tidak ada sanad maka orang akan sesukanya mengatakan apa saja yang dia inginkan.” (HR. Muslim).
Teknologi AI tidak memiliki sanad keilmuan; ia hanya merangkum, memprediksi kalimat, dan mengolah data dari berbagai sumber di internet tanpa peduli apakah data tersebut sahih atau rancu. Kelemahan fatal dari ketergantungan pada algoritma digital adalah fenomena “halusinasi AI” dan maraknya pencampuran mazhab yang keliru. Sebagai contoh nyata dalam hukum fikih, ketika ditanya tentang tata cara bersuci atau rukun salat, AI sering kali mencampuradukkan pendapat Mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali dalam satu rangkaian ibadah tanpa memberikan catatan kaki yang jelas. Akibatnya, jawaban yang dihasilkan bisa memicu talfiq yang dilarang (mencampuradukkan mazhab hingga membatalkan keabsahan ibadah menurut semua mazhab tersebut). AI bekerja berdasarkan probabilitas statistik kata, bukan pemahaman hukum Islam yang komprehensif, sehingga sangat rawan melahirkan fatwa palsu yang menyesatkan penggunanya.
Selain transfer pengetahuan (ta’lim), esensi utama dari belajar Islam adalah pembentukan karakter, moral, dan adab (tarbiyah). Nilai-nilai luhur seperti keikhlasan, ketawaduan, kelembutan hati, dan integritas moral tidak akan pernah bisa ditiru dari layar komputer atau aplikasi ponsel. Terkait hal ini, sebagai kunci utama mengalirnya berkah suatu ilmu, harus dipahami bahwa ilmu yang berkah itu diperoleh dari pancaran ketulusan dan keridaan seorang guru yang mendidik muridnya secara langsung, sesuatu yang mustahil didapatkan dari sebuah kecerdasan buatan. Oleh karena itu, pesantren hadir sebagai benteng terbaik dan solusi paling ideal bagi umat Islam untuk menimba ilmu agama secara kafah (menyeluruh). Di dalam pondok pesantren, santri tidak hanya membaca kitab, tetapi juga hidup di bawah pengawasan langsung para ustadz dan guru selama 24 jam. Pola hidup bermukim ini memungkinkan proses transfer adab, penanaman karakter disiplin, dan pengujian pemahaman agama terjadi secara alami dan intensif. Mari kita kembali meramaikan majelis ilmu, mempercayakan pendidikan generasi muda kepada lembaga pesantren, dan duduk bersimpuh di hadapan para ulama demi merengkuh keberkahan serta sanad keilmuan yang selamat dunia hingga akhirat.
