Oleh : Umi Fadhiilah, S.Si

FOMO (Fear of Missing Out) merupakan perasaan takut tertinggal akan sesuatu yang sedang dilakukan, dibicarakan, atau dinikmati oleh orang lain. FOMO ini berkaitan dengan kekhawatiran bahwa orang lain sedang mendapatkan pengalaman yang berharga sementara kita tidak ikut mengalaminya. Bagi remaja, FOMO bisa muncul dalam berbagai bentuk. Takut ketinggalan tren, takut tidak diajak teman, takut tidak punya barang yang sedang populer, hingga merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain di media sosial.

FOMO ini diperparah oleh media sosial yang membuat kehidupan orang lain terasa begitu dekat. Dalam beberapa menit, kita bisa melihat teman yang sedang liburan, meraih prestasi, membeli barang baru, atau mengikuti berbagai kegiatan menarik. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri dan berpikir, “Kok mereka sudah sejauh itu?”, “Aku kapan?”, atau “Apa aku tertinggal?” Padahal, apa yang terlihat di media sosial biasanya hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita melihat pencapaian dan momen bahagianya, tetapi tidak selalu melihat proses, kesulitan, dan masalah di baliknya. Akibatnya, kita bisa membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.

Dalam Islam, kita diajarkan untuk tidak terus-menerus memandang apa yang dimiliki orang lain hingga membuat hati merasa kurang.

Allah Swt. berfirman, “Janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka.” (QS. Thaha: 131).

Belajar untuk qanaah merupakan satu cara untuk terhindar dari FOMO. Qanaah adalah perasaan cukup atas apa yang Allah berikan tanpa berhenti berusaha menjadi lebih baik. Kita boleh memiliki cita-cita dan ingin berkembang, tetapi pencapaian orang lain tidak seharusnya menjadi ukuran harga diri kita. Dia sudah berhasil, bukan berarti aku gagal. Dia lebih dulu bukan berarti aku terlambat.

Islam sebenarnya juga mengajarkan kita untuk memiliki rasa takut tertinggal, tetapi dalam hal yang berbeda. Allah Swt. berfirman, “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148). Ketika melihat teman rajin belajar, membaca Al-Qur’an, bersedekah, menghadiri majelis ilmu, atau membantu orang lain, kita dapat menjadikannya sebagai motivasi untuk ikut melakukan kebaikan. Jadi, bukan “Aku takut ketinggalan dari mereka,” tetapi “Aku takut melewatkan kesempatan untuk menjadi lebih baik.”

Karena itu, tidak semua hal yang sedang ramai harus kita ikuti. Sebelum mengikuti sesuatu, kita bisa bertanya kepada diri sendiri: “Apakah ini baik untukku? Apakah ini bermanfaat? Apakah Allah ridha dengan pilihan ini?” Dengan begitu, kita belajar memilih berdasarkan prinsip, bukan sekadar mengikuti orang lain. Yang terpenting adalah kita terus bertumbuh, bersyukur atas nikmat Allah, dan menggunakan kesempatan yang kita miliki untuk menjadi pribadi yang lebih baik.