Oleh: Sweet Nabila I.A, S.Pd., M.M

Samarinda, 14 Agustus 2026 – Jumat menjadi momentum yang berbeda bagi para santri. Selain mengikuti kajian sebagai penguatan spiritual dan karakter, para santri juga diajak untuk membangun semangat belajar melalui sebuah pesan sederhana “Bukan siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang mau berjuang.”

Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena hari ini para santri untuk pertama kalinya mengikuti latihan soal TKA Sosiologi. Kegiatan ini bukan sekadar latihan mengerjakan soal, tetapi menjadi langkah awal untuk mengenal kemampuan diri, memahami pola soal, serta melatih kemampuan berpikir dan bernalar dalam menghadapi berbagai persoalan sosial. Dalam pembelajaran sosiologi, santri tidak hanya dituntut untuk menghafal berbagai konsep. Mereka juga belajar memahami kehidupan masyarakat, membaca fenomena sosial, menganalisis permasalahan, melihat hubungan sebab-akibat, serta mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang tersedia.

Hal tersebut sejalan dengan karakter soal TKA yang mendorong peserta didik untuk tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan menggunakan pengetahuan dalam menghadapi permasalahan. Karena itu, latihan pertama ini tidak harus dipandang sebagai ajang untuk menentukan siapa yang paling pintar. Latihan pertama adalah kesempatan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan kita saat ini. Ada soal yang mungkin dapat dijawab dengan mudah. Ada pula soal yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dipahami. Bahkan, mungkin terdapat jawaban yang masih keliru. Semua itu merupakan bagian dari proses belajar. Kesalahan bukan tanda bahwa seseorang tidak mampu. Kesalahan justru dapat menjadi petunjuk tentang bagian mana yang perlu dipelajari kembali.

Dalam perjalanan belajar, setiap santri memiliki kemampuan dan kecepatan yang berbeda. Ada yang cepat memahami materi. Ada yang membutuhkan penjelasan berulang. Ada yang unggul dalam mengingat konsep. Ada pula yang lebih kuat dalam menganalisis kasus dan fenomena. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk saling merendahkan. Justru melalui kehidupan pesantren, santri belajar bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh lingkungan yang saling mendukung. Teman dapat menjadi tempat berdiskusi. Guru menjadi pembimbing. Lingkungan pesantren menjadi ruang untuk membangun kedisiplinan. Dan diri sendiri menjadi pihak yang paling menentukan seberapa besar kemauan untuk terus berusaha.

Lebih dari itu, pendidikan adalah proses membentuk manusia yang berilmu, berkarakter, mampu berpikir, memiliki tanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan kehidupan. Hari ini mungkin santri sedang belajar menjawab soal sosiologi. Namun, di masa depan mereka akan menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks dalam kehidupan nyata. Karena itu, latihan sederhana hari ini dapat menjadi bagian dari pembentukan mental untuk menghadapi tantangan yang lebih besar.

Bukan siapa yang paling pintar sejak awal.

Bukan siapa yang selalu mendapatkan nilai tertinggi.

Tetapi siapa yang tetap mau belajar ketika mengalami kesulitan, berani mengevaluasi kesalahan, dan terus berjuang untuk menjadi lebih baik.

Sebab dalam perjalanan pendidikan, yang terpenting bukan hanya seberapa tinggi kita mencapai, tetapi seberapa kuat kita mau terus melangkah