Oleh: Siti Hartiah, S.H
Sejarah mungkin lebih banyak mengenal nama Imam Syafi’i, tetapi surga lebih mengetahui doa, dan pengorbanan seorang ibu yang melahirkan dan mendidiknya.
Nama Imam Syafi’i begitu dikenal dalam sejarah Islam. Beliau adalah salah satu imam mazhab yang ilmunya menjadi cahaya bagi umat hingga hari ini. Namun, di balik itu ada wanita mulia yang jarang disebut, yaitu ibundanya, Fatimah binti Ubaidillah al-Azdiyah.
Seorang Ibu yang Harus Membesarkan Anaknya Seorang Diri
Nama lengkapnya Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’i lahir pada tahun 150 H di Gaza, Palestina. Tidak lama setelah kelahiran beliau, ayahnya wafat. Sejak saat itu, Fatimah binti Ubaidillah memikul amanah besar sebagai ibu sekaligus ayah bagi putranya.
Keadaan ekonomi mereka tidaklah berlimpah. Ia menyadari bahwa warisan terbaik yang dapat diberikan kepada anaknya bukanlah harta yang banyak, melainkan iman, akhlak, dan ilmu yang bermanfaat.
Berkorban Demi Lingkungan yang Baik
Melihat pentingnya pendidikan dan lingkungan yang saleh, Fatimah bint Ubaidillah memutuskan membawa putranya kembali ke Makkah. Perjalanan yang jauh dan berat itu ditempuh demi satu harapan, agar putranya tumbuh di tengah para ulama dan majelis ilmu. Ibundanya memahami bahwa lingkungan yang baik akan sangat berpengaruh terhadap masa depan seorang anak. Karena itu, beliau rela meninggalkan kampung halamannya demi pendidikan sang anak.
Pengorbanan itu tidak sia-sia. Dengan izin Allah, Imam Syafi’i tumbuh menjadi anak yang mencintai Al-Qur’an dan ilmu. Pada usia yang masih muda, beliau telah menghafal Al-Qur’an dan kemudian menjadi salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam.
Kesederhanaan yang Melahirkan Keagungan
Imam Syafi’i kecil tidak selalu memiliki kertas untuk menulis pelajaran. Beliau mengumpulkan tulang-tulang dan pelepah kurma untuk dijadikan media menulis. Namun, sang ibu tidak pernah mengeluh. Ia tidak mematahkan semangat anaknya dengan alasan kesulitan ekonomi. Sebaliknya, ia terus mendukung, mendoakan, dan mengarahkan agar tetap istiqamah dalam menuntut ilmu.
Betapa banyak ibu yang mungkin tidak dikenal manusia, tetapi Allah jadikan sebagai sebab lahirnya orang-orang besar yang memberi manfaat bagi umat.
Allah Ta’ala berfirman:
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku ketika kecil.'” (QS. Al-Isra’: 24).
Bagi para ayah dan ibu yang hari ini menitipkan anak-anaknya di pesantren, mungkin ada kalanya merasa rindu, khawatir, bahkan sedih karena harus berpisah dengan mereka. Akan tetapi, ingatlah bahwa menanam benih kebaikan memang membutuhkan kesabaran.
Fatimah binti Ubaidillah rela berpisah dari kenyamanan hidup demi masa depan ilmu putranya. Begitu pula para orang tua yang hari ini mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada para guru dan para pengasuh pesantren. Semoga setiap air mata kerinduan, setiap biaya yang dikeluarkan, setiap doa yang dipanjatkan pada sepertiga malam, dicatat oleh Allah sebagai amal yang tidak terputus.
Pohon yang besar tidak tumbuh dalam semalam. Bisa jadi anak yang saat ini sedang menghafal al-Qur’an, belajar adab, dan belajar agama di pesantren, kelak menjadi sebab mengalirnya pahala yang tidak pernah terputus bagi kedua orang tuanya.
Anak-anak yang sedang mondok mungkin belum menjadi ulama besar seperti Imam Syafi’i. Namun, mereka bisa tumbuh menjadi anak-anak yang mengenal Rabb-nya, berbakti kepada kedua orang tuanya, menjaga shalatnya, dan membawa manfaat bagi masyarakat. Karena keberhasilan terbesar bukanlah ketika anak menjadi terkenal, tetapi ketika ia menjadi anak yang shalih
Pelajaran yang Dapat Dipetik
- Pendidikan anak adalah investasi akhirat yang paling berharga.
- Kesuksesan anak dibangun dengan doa, pengorbanan, dan kesabaran orang tua.
- Lingkungan yang baik merupakan salah satu kunci lahirnya generasi unggul.
- Keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk mendidik anak.
- Orang tua yang ikhlas mendidik anaknya karena Allah, akan mendapatkan pahala yang besar.
Semoga para ayah dan ibu yang hari ini sedang berjuang mendidik anak-anaknya, terutama yang sedang mondok jauh dari rumah, diberikan kekuatan dan kesabaran. semoga Allah menjadikan anak-anak mereka sebagai generasi yang saleh, berilmu, dan penyejuk hati bagi kedua orang tuanya.
Sebagaimana seorang ibu bernama Fatimah binti Ubaidillah al-Azdiyah telah melahirkan seorang Imam Syafi’i, tidak ada yang mustahil jika dari pesantren-pesantren ini, Allah kembali melahirkan generasi yang menerangi umat dengan ilmu dan ketakwaan.
الذهبي، سير أعلام النبلاء، جـ10، صـ5-16
البيهقي، مناقب الشافعي، جـ2، صـ140
السبكي، طبقات الشافعية الكبرى، جـ2، صـ71.
Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, Muassasah ar-Risalah, Beirut.
Al-Baihaqi, Manaqib al-Imam asy-Syafi’i, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Tajuddin as-Subki, Tabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah.
