Oleh: Umi Fadhiilah, S.Si
Pernahkah kita menunda mengerjakan tugas padahal sebenarnya memiliki cukup waktu? Atau merasa tidak mampu sebelum benar-benar mencoba?
Mungkin tanpa disadari, kita sedang melakukan self-sabotage.
Ada banyak hal yang sering kita lakukan dan terlihat biasa saja. Namun ternyata, kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat menjadi penghambat bagi perkembangan diri kita sendiri. Ironisnya, hambatan itu bukan berasal dari orang lain, melainkan dari diri kita sendiri.
Apa Itu Self Sabotage?
Self-sabotage adalah perilaku, kebiasaan, atau keyakinan yang secara sadar maupun tidak sadar menghambat diri sendiri dalam mencapai tujuan, kesuksesan, dan kebahagiaan.
Sering kali perilaku ini muncul sebagai cara untuk melindungi diri dari rasa tidak nyaman, seperti takut gagal, takut ditolak, takut malu, atau takut melakukan kesalahan. Namun, alih-alih melindungi diri, perilaku tersebut justru membuat kita semakin jauh dari tujuan yang ingin dicapai.
Contoh yang paling sering terjadi adalah menunda pekerjaan.
Kita tahu ada tugas yang harus dikerjakan. Tubuh sedang sehat dan waktu masih tersedia. Namun, alih-alih memulai, kita justru memilih membuka media sosial, menonton video, atau melakukan hal lain yang tidak terlalu penting.
Kita berkata, “Nanti aja, masih ada waktu.” atau “Nanti aja, nunggu mood dulu”
Hingga akhirnya tenggat waktu semakin dekat, rasa panik muncul, dan tugas dikerjakan terburu-buru. Hasilnya tidak maksimal, lalu kita menyesal. Jika pola seperti ini terus berulang, lama-kelamaan kita mulai kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri. Kita menjadi ragu terhadap kemampuan dan komitmen yang sebenarnya kita miliki. Padahal sering kali masalahnya bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kebiasaan kita sendiri yang menghambat langkah untuk berkembang.
Lalu bagaimana cara mengatasinya?
Pertama, kenali kebiasaan yang sering menghambat diri sendiri. Kedua, pahami emosi yang ada di balik kebiasaan tersebut, apakah rasa takut, malas, minder, atau khawatir gagal. Ketiga, periksa kembali keyakinan yang mendasarinya. Bisa jadi kita menunda karena merasa waktu masih banyak, atau takut memulai karena ingin semuanya sempurna.
Ingatlah bahwa perilaku sering berawal dari cara berpikir kita.
Keyakinan → Emosi → Perilaku → Hasil Hidup
Karena itu, perubahan tidak cukup hanya dilakukan pada perilaku, tetapi juga pada cara kita memandang diri sendiri dan tantangan yang dihadapi.
Mengatasi self-sabotage memang tidak instan. Namun, perubahan selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Jangan biarkan ketakutan, kemalasan, atau keraguan menghalangi potensi yang telah Allah titipkan kepada kita. Mari belajar menjadi pendukung terbaik bagi diri sendiri, bukan penghambatnya.
