Oleh: Muhammad Reza Ardhana, S.Pd

Assalamualaikum, Sahabat SMA IM…

Ada banyak kegiatan positif untuk mengisi liburan semester nanti, salah satunya dengan membaca buku. Namun, saat membaca buku, terutama buku sastra fiksi, pernahkah sahabat SMA IM merasa seakan-akan isi buku tersebut pas banget dengan keadaan kita atau budaya yang ada di lingkungan kita? Dari pertanyaan tersebut, maka muncul pertanyaan lain apakah sebenarnya sastra itu benar-benar hanya sebuah karya fiktif-imajinatif atau lebih dari itu?

Melalui artikel ini, mari kita bahas bersama.

Mengutip buku Pengantar Sosiologi Sastra yang ditulis oleh Faruk, terdapat beberapa ahli sastra yang menjelaskan bahwa sastra bukanlah sekadar rekaan fiktif-imajinatif dari ide pengarang, tapi dunia dalam karya sastra merupakan tiruan terhadap kenyataan yang sebenarnya. Salah satu kenyataan tersebut, adalah budaya yang hidup dan berada di sekitar penulis.

Hal ini dapat dilihat, misalnya, dalam karya sastra modern novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Pada bab “Sarung dan Kurban”, Ahmad Fuadi menuliskan tentang budaya marosok, yaitu tradisi tawar-menawar harga menggunakan isyarat tangan yang dilakukan di balik sarung. Tradisi ini bukan hasil khayalan semata, melainkan praktik budaya nyata yang hidup di tengah masyarakat Minangkabau

Selain novel, teater juga menjadi medium sastra yang kuat dalam memotret budaya. Salah satunya adalah pertunjukan teater oleh Sanggar Pilar Samarinda berjudul “Yabe Lale”. Pertunjukan ini menampilkan salah satu tradisi dari Suku Bugis, yakni Sigajang Laleng Lipa, sebuah ritual duel kehormatan yang dilakukan oleh dua orang di dalam satu sarung. Tradisi ini bukan sekadar tontonan drama, tetapi representasi nilai budaya Bugis tentang harga diri, keberanian, dan kehormatan (siri’).

Jadi, berdasarkan contoh-contoh tersebut, kita dapat melihat bahwa sastra—baik dalam bentuk novel maupun teater—tidak pernah benar-benar lepas dari realitas sosial dan budaya masyarakat. Sastra justru—meskipun tidak semua—menjadi cermin yang memantulkan kehidupan, nilai, kebiasaan, bahkan konflik yang ada di sekitar kita. Oleh karena itu, sastra sejatinya tidak selalu berupa karya fiktif-imajinatif, tetapi juga menjadi potret untuk memahami manusia dan kebudayaannya. Melalui sastra, kita diajak untuk lebih peka terhadap lingkungan, menghargai tradisi, serta menyadari bahwa identitas budaya kita dapat hidup, diwariskan, bahkan diabadikan.

Maka, Sahabat SMA IM, saat kalian membaca sastra, cobalah bertanya: budaya apa yang sedang dipotret di dalamnya? Sebab bisa jadi, cerita yang kalian baca adalah kisah tentang diri kita sendiri—yang ditulis dengan bahasa imajinasi, tetapi berakar kuat pada kenyataan.