Oleh: Baginda Abu Bakar, S.H., M.A
Beberapa waktu terakhir, kita menyaksikan ujian dari Allah ﷻ berupa banjir yang melanda kota kita tercinta Samarinda. Air yang meluap, rumah yang terendam, serta aktivitas yang terganggu menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia ini berada dalam kekuasaan Allah semata, Musibah ini bukan sekadar kejadian alam, namun juga panggilan bagi kita semua untuk bermuhasabah—mengevaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Musibah yang melanda suatu wilayah bukan sekadar peristiwa alam biasa. Bagi seorang muslim, setiap kejadian adalah ayat (tanda) dari Allah ﷻ yang mengandung pelajaran dan peringatan. Oleh karena itu, musibah seperti banjir seharusnya menjadi momentum untuk muhasabah (introspeksi diri), bukan sekadar mengeluh atau menyalahkan keadaan.
- Musibah adalah Peringatan dari Allah
Allah ﷻ berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menjelaskan bahwa berbagai bencana, termasuk banjir, bisa jadi akibat dari ulah manusia sendiri—baik secara fisik (kerusakan lingkungan) maupun secara maknawi (kemaksiatan kepada Allah).
- Musibah Karena Dosa dan Maksiat
Allah ﷻ juga berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahanmu).”
(QS. Asy-Syura: 30)
Ayat ini bukan berarti setiap musibah pasti hukuman, tetapi bisa menjadi peringatan dan teguran agar manusia kembali kepada Allah.
- Musibah Sebagai Ujian Keimanan
Di sisi lain, musibah juga merupakan ujian bagi orang beriman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ…
“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta…”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Maka sikap seorang mukmin adalah sabar, bukan putus asa.
- Sikap Rasulullah ﷺ Saat Terjadi Musibah
Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk kembali kepada Allah saat musibah:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
(HR. Muslim)
Beliau juga bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ… إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan… melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa musibah bisa menjadi penghapus dosa jika dihadapi dengan sabar.
- Perkataan Ulama Salaf Tentang Musibah
Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:
“Sesungguhnya suatu musibah adalah nasihat dari Allah, maka ambillah pelajaran darinya.”
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata:
“Tidaklah turun bala kecuali karena dosa, dan tidak diangkat kecuali dengan taubat.”
Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
“Di antara hukuman dosa adalah munculnya kerusakan di bumi… dan di antara rahmat Allah adalah Dia memperingatkan hamba-Nya dengan musibah agar mereka kembali.”
- Muhasabah yang Harus Kita Lakukan
Banjir yang melanda seharusnya menggerakkan kita untuk:
- Bertaubat kepada Allah
Memperbanyak istighfar dan meninggalkan maksiat.
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ… يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu… niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu.”
(QS. Nuh: 10–11)
- Memperbaiki hubungan dengan Allah
Shalat, dzikir, dan ibadah lainnya harus ditingkatkan.
- Memperbaiki hubungan sesama manusia
Banyak bencana juga akibat kezaliman sosial—korupsi, ketidakadilan, dan kelalaian amanah.
- Menjaga lingkungan
Islam mengajarkan kebersihan dan larangan merusak alam.
- Penutup
Banjir bukan sekadar fenomena alam, tetapi bisa menjadi peringatan, ujian, dan rahmat tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jika kita hanya melihatnya sebagai bencana tanpa mengambil pelajaran, maka kita telah kehilangan hikmah besar di baliknya.
Mari kita jadikan musibah ini sebagai momentum untuk kembali kepada Allah, memperbaiki diri, dan meningkatkan keimanan.
اللهم تب علينا وتقبل منا، واصرف عنا البلاء والمحن
“Ya Allah, terimalah taubat kami, dan jauhkan dari kami segala musibah dan ujian.”
