
Oleh : Ustadz Muhammad
Ramadhan bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah. Ia adalah musim turunnya rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Di dalamnya, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Karena itu, seorang muslim yang cerdas tidak menyambut Ramadhan dengan biasa-biasa saja, melainkan dengan taubat, perencanaan ibadah, dan tekad kuat untuk meraih derajat takwa.
Dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa suasana spiritual Ramadhan sangat kondusif untuk ketaatan. Jalan menuju surga dimudahkan, dan sebab-sebab menuju neraka dipersempit. Tidak hanya itu, Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (ihtisab), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim) Demikian pula bagi yang menegakkan shalat malam Ramadhan dan menghidupkan Lailatul Qadr dengan iman dan ihtisab, dijanjikan ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap malam Ramadhan Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka. Inilah yang menjadikan Ramadhan sebagai “musim pembebasan” (عتقاء من النار). Bekal terpenting menjelang Ramadhan adalah taubat yang jujur dan sungguh-sungguh. Taubat bukan sekadar ucapan istighfar, tetapi mencakup: Meninggalkan dosa, menyesali perbuatan maksiat, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap dosa menimbulkan titik hitam di hati. Jika seseorang bertaubat, noda itu dihapus. Namun jika ia terus bermaksiat, titik-titik itu akan menutupi hatinya. Allah ﷻ berfirman: يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53) Menjelang Ramadhan, hendaknya setiap muslim mengoreksi dosa-dosa yang sering diulang: menjaga pandangan, lisan dari ghibah, kejujuran dalam muamalah, dan kebiasaan lalai lainnya. Hati yang bersih akan lebih mudah khusyuk dalam ibadah. Allah ﷻ menjelaskan tujuan utama puasa dalam firman-Nya: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183) Keberhasilan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi perubahan sikap dan akhlak. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Sahih al-Bukhari)
Komentar Pembaca
Tanggapan dan diskusi publik untuk berita ini (0 komentar)
Belum Ada Komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan atau komentar untuk berita ini!
Tinggalkan Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan secara umum.